"Nah,gue menang. Kalah lagi kan lo!" seru Heri dengan semangatnya.
"Sial. Gue kayaknya gak jago banget main BINGO." jawab Gilang dengan lesu
"Udah cepetan, truth or dare?" potong Lintang tidak sabaran.
Permainan truth or dare atau biasa disebut 'juber' as known as jujur berani, memang permainan yang lagi naik daun di sekolah saat ini. Truth or dare sendiri lebih menuju pada hukuman, jadi apapun permainannya. Truth or dare hukumannya.
Dan yang paling menyenangkan dari truth or dare adalah siapapun bisa mengetahui rahasia apapun dan bisa menjahili siapapun.
Apalagi bagi orang-orang sejenis Heri dan Lintang yang paling iseng. Disuguhi Gilang yang sangat, pasrah.
Tapi sepasrah apapun Gilang, dia tidak pernah memilih 'truth' bila kalah dalam permainannya bersama Heri dan Lintang. Jadi merekapun semakin bergairah untuk menjahili Gilang.
Pernah suatu kali Gilang disuruh hormat tiang gawang sambil bernyanyi lagu bang toyib. Dan seperti tidak ada kapoknya Gilang tetap bermain dengan mereka.
Disini gue hanya ingin berbagi hasil kreasi gue. Dengan maksud sebagai hiburan atau lebih bagus lg bila bisa menjadi inspirasi... Yang mau baca dipersilakan yang mau sekedar berkomentar juga silakan... Jika punya kritik dan saran untuk karya"nya, komen aja yaa. Selamat menikmati~ Ingat! Pembaca yg baik adalah pembaca yg meninggalkan jejak :D
Tampilkan postingan dengan label Cerpen ~ Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen ~ Fiksi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 17 Desember 2015
Kamis, 26 Juli 2012
Cinta Sebangku
“Vira, kamu pindah sama Dimas!” ucap Bu. Widya sambil lalu saat perwalian kelas 9 hari ini. Bu. Widya memang sedang menata ulang tempat duduk kelas 9c. Dan masyarakat kelas tentu tidak setuju, tidak sedikit juga yang sudah pasrah. Tapi apa mau dikata? Perkataan Bu. Widya adalah undang-undang yang berlaku di kelas ini.
“Apa???!! Sama Dimas??!” teriak Vira tidak percaya dan meletakkan kembali buku yang tadi sudah dijinjingnya di atas meja.
“Iya! Dengan Dimas. Kalau kamu keberatan, kamu boleh keluar kelas. Ingat komitmen yang sudah kita buat?” sahut Bu. Widya tenang.
Terseok-seok Vira berjalan melewati beberapa kursi dibelakangnya. Wajahnya sudah muram, dan dia sudah tidak berminat lagi untuk berbicara.
“Minggir!!” bentak Vira kepada Dimas yang sudah menempati tempatnya di sebelah jendela. “Gue mau deket jendela.”
“Yaelah, biasa aja kek ngomongnya. Pendengaran gue masih baik-baik aja kali!” sahut Dimas yang tampak sangat tenang. Sambil memindahkan tas dan beberapa barangnya ke kursi sebelah.
“Apa???!! Sama Dimas??!” teriak Vira tidak percaya dan meletakkan kembali buku yang tadi sudah dijinjingnya di atas meja.
“Iya! Dengan Dimas. Kalau kamu keberatan, kamu boleh keluar kelas. Ingat komitmen yang sudah kita buat?” sahut Bu. Widya tenang.
Terseok-seok Vira berjalan melewati beberapa kursi dibelakangnya. Wajahnya sudah muram, dan dia sudah tidak berminat lagi untuk berbicara.
“Minggir!!” bentak Vira kepada Dimas yang sudah menempati tempatnya di sebelah jendela. “Gue mau deket jendela.”
“Yaelah, biasa aja kek ngomongnya. Pendengaran gue masih baik-baik aja kali!” sahut Dimas yang tampak sangat tenang. Sambil memindahkan tas dan beberapa barangnya ke kursi sebelah.
Senin, 18 April 2011
Belum Ada Judul - Part 3
III
Tepatnya tiga tahun lalu. Saat Vanka masih duduk di kelas 6 SD. Hari-hari yang sibuk untuk mempersiapkan ujian kelulusannya. Hamper setiap hari diisinya dengan pelajaran tambahan. Sampai suatu ketika, Vanka ditugasi gurunya untuk mengantarkan sebuah surat untuk guru di SMP. Yang sekarang diketahuinya bernama Bu Andar.
Hari Sabtu itu, sepulang sekolah Vanka mengantarkannya ke ruang guru SMP. Tetapi guru yang dituju itu belum selesai mengajar. Terbesit di pikirannya untuk menitipkan saja suratnya pada guru yang ada disana. Tetapi mengingat perkataan gurunya, dia mengurungkan niatnya.
“Pokoknya pastikan surat itu dibaca ya! Jangan kamu titip ke temenmu!”
Dan Vanka tidak ingin mengecewakan gurunya.
Setelah bertanya-tanya pada guru yang ada, Vanka menemukan guru yang dimaksud. Di kelas IX F. Ragu-ragu Vanka mengetuk pintunya.
“Iya. Cari siapa?” sapa lembut guru itu seraya melebarkan pintu.
“Selamat siang,Bu. Maaf, ini ada titipan surat dari Pak Gery untuk ibu.”
“Oh iya… iya… Terimakasih ya! Kamu kelas berapa?”
“Saya kelas 6.”
“Oh. Ok! Terimakasih ya!”
“Iya bu! Sama-sama. Selamat siang.”
Setelah mengucapkan salam, Vanka pergi meninggalkan tempat itu. Tapi dari ekor matanya, dia melihat seorang laki-laki yang kursinya berada di dekat pintu. Yang sedari tadi telah menatapnya. Tiba-tiba dia menjadi malu. Entah ada apa di dalam mata laki-laki tersebut, yang membuat Vanka langsung kagum ketika melihatnya.
Tepatnya tiga tahun lalu. Saat Vanka masih duduk di kelas 6 SD. Hari-hari yang sibuk untuk mempersiapkan ujian kelulusannya. Hamper setiap hari diisinya dengan pelajaran tambahan. Sampai suatu ketika, Vanka ditugasi gurunya untuk mengantarkan sebuah surat untuk guru di SMP. Yang sekarang diketahuinya bernama Bu Andar.
Hari Sabtu itu, sepulang sekolah Vanka mengantarkannya ke ruang guru SMP. Tetapi guru yang dituju itu belum selesai mengajar. Terbesit di pikirannya untuk menitipkan saja suratnya pada guru yang ada disana. Tetapi mengingat perkataan gurunya, dia mengurungkan niatnya.
“Pokoknya pastikan surat itu dibaca ya! Jangan kamu titip ke temenmu!”
Dan Vanka tidak ingin mengecewakan gurunya.
Setelah bertanya-tanya pada guru yang ada, Vanka menemukan guru yang dimaksud. Di kelas IX F. Ragu-ragu Vanka mengetuk pintunya.
“Iya. Cari siapa?” sapa lembut guru itu seraya melebarkan pintu.
“Selamat siang,Bu. Maaf, ini ada titipan surat dari Pak Gery untuk ibu.”
“Oh iya… iya… Terimakasih ya! Kamu kelas berapa?”
“Saya kelas 6.”
“Oh. Ok! Terimakasih ya!”
“Iya bu! Sama-sama. Selamat siang.”
Setelah mengucapkan salam, Vanka pergi meninggalkan tempat itu. Tapi dari ekor matanya, dia melihat seorang laki-laki yang kursinya berada di dekat pintu. Yang sedari tadi telah menatapnya. Tiba-tiba dia menjadi malu. Entah ada apa di dalam mata laki-laki tersebut, yang membuat Vanka langsung kagum ketika melihatnya.
Jumat, 25 Maret 2011
Belum Ada Judul - Part 2
II
Bel istirahat sekolah berbunyi. Satu hal yang sedari tadi sudah dinanti-nati oleh Vanka, Eka, Yuri, Yosua, dan Wanto. Mereka semua sudah lapar. Apalagi Vanka dan Yuri. Mereka belum sarapan tadi pagi. Pelajaran Bu Heni pun lewat begitu saja di telinga mereka berdua. Mereka sudah memikirkan menu-menu apa saja yang ada di kantin. Makanya, saat bel istirahat berbunyi mereka berdua yang langsung melonjak dari kursinya masing-masing.Sesampainya di kantin yang berada di tingkat paling bawah, Vanka langsung memburu stand soto mie seharga empat ribu rupiah.
Yuri adalah keturunan Jepang. Tapi dia sangat menyukai gudeg. Untung di sekolah menjual nasi gudeg. Jadi Yuri dapat menyantapnya kapan saja, apalagi saat lapar berat begini.
Dan Eka menjatuhkan pilihannya pada bubur ayam, yang hanya berisi bubur dengan kecap asin dan kerupuk. Dan mereka selalu tertawa bila membaca judulnya, ‘Bubur Ayam’.
“Mana ayamnya? Ini mah bubur kecap.” Protes Eka. Tapi mau diapakan lagi. Daripada tidak makan. Dia memang tidak terlalu lapar. Tetapi sejak dia pernah sakit tifus satu tahun lalu, ibunya tidak mengijinkan perutnya kosong. Entah pengertian darimana kalau tifus itu berarti kelaparan?
Yosua dan Wanto lebih berselera dengan siomay di luar sekolah. Meskipun harus berdesak-desakan. Katanya, “Kan kalo beli pake usaha makannya lebih berasa.”
Padahal yang membuat siomay terasa enak itu kan dari bumbu kacang atau dari siomaynya sendiri.
Rabu, 23 Maret 2011
Belum ada Judul Part 1
I
“Yovanka Katarina Anggraini Dwiastuti!” panggil Pak Sutyo dengan suara yang mampu meruntuhkan jantung setiap orang yang mendengarnya.
“Iya,Pak.” Jawab Vanka sembari berdiri dari tempat duduknya.
“Sini kamu! Jadi anak cewek kok males! Apa-apaan ini?! Buku PR kosong melompong! Kamu kira saya bisa dibodohi!” omel Pak Sutyo setelah mendapati buku PR Vanka kosong.
Dengan wajah tanpa dosa Vanka menghampiri Pak Sutyo yang sudah siap menyemprotnya lagi dengan ‘karangan’nya. Tapi ia menoleh sejenak saat melewati meja Yosua. Mulutnya berkomat-kamit dengan suara yang tidak satu semutpun dapat mendengar, sambil tersenyum pahit kepada Yosua. Kalau bisa diterka kira-kira bunyinya “Mati gue.”
Dan Yosua hanya bisa tertawa kecil.
Langganan:
Postingan (Atom)