Tampilkan postingan dengan label Puisi ~ Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi ~ Sajak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Januari 2016

Tentang Senyum yang Retak

tentang senyum yang retak
terulas di bibir tak berdaya
yang lelah didera rasa
cantiknya memudar
dengan pancaran mata lemah
hampa menatap kelok terakhir

tentang senyum yang retak
menghias di paras tak bergairah
menanti sisa-sisa harapan
yang tak kunjung bertunas
matanya syahdu
menunggu jawaban dari pertanyaan hidupnya

tentang senyum yang retak
di topeng wajah anak dara
yang tak bertemu bahagia

tentang senyum yang retak
di panggung sandiwara hidup
yang tak mampu dihela

tentang senyum yang retak
di antara sisa-sisa hari ini dan esok

dan senyum yang retak
yang masih akan terkembang
hari ini, dan esok
dan akan esok
dan esok
esok

Bekasi, 6 Januari 2016

Sabtu, 03 Oktober 2015

Pedih #Malam10

malam ini,
kusesap pedih sendiri
dalam secangkir sepi
bersama alunan simfoni perih

Senin, 28 September 2015

Jelmaan Rindu

rupanya malam ini,
rindu menjelma serupa perih
menusuk merasuk
meredam dalam kelam
merenda dalam gelap
terpetakan dirimu
bayang demi bayang
nyata demi nyata
tapi berupa asa
tak terjemput
tak terenggut

masihkah mampu kurengkuh?
bila nyataku dan nyatamu
adalah serupa jati dan kemarau
yang terhempas udara
dimakan tanah
bersanding tak direstui alam

haruskah ku berlari?
dapatkan bayangmu yang serupa menangkap senja dalam secangkir kopi
terpejam dan tersesap
terdiam dalam kekinian

rindu telah menjelma pedih
menusuk merasuk
meradang dalam kelam

Minggu, 20 September 2015

Larik Malam #Malam9

Tentang kedamaian sebuah malam,
yang diisi larik kata demi kata
Kemanakah harus kucari larik sajak yang hilang
Ketika peraduanku yg hangat bukan tempatku bersinggah
Hanya lelah dan malam ini
yang kian membisu di hadapku
larik dan malam,
sepi dan bisu
lelah dan lelah

Senin, 24 November 2014

Tidur #malam4

aku ingin tidur di pelukan hujan
pun dinginnya membelai tulang
namun rintiknya redakan gundah

Kamis, 20 November 2014

Luput #malam2

Satu hal yang luput
dari kenyataan indah,
selalu ada yang tersenyum patah
berdiri diambang ketegaran
dan pengharapan yang mulai sia-sia
terseok tersebab oleh perasaan

Minggu, 16 November 2014

Biarkan #malam1

Biarkan,
kenangan tentangmu yang terpatri di otakku
Sebab jiwamu yang tetap tak terengkuh
pun ragamu tak tersentuh
Biarkan,
aku miliki kamu meski hanya dalam anganku.
-16 Nov '14-

Senin, 10 November 2014

Haruskah?

Bila lantunan nada dapat kehilangan syair
Dan sajak kehilangan rima
Bila bintang tak selalu bersanding dengan bulan
Dan pelangi tak datang sehabis hujan
Bila ombak tak selalu memecah karang
Dan pantai tak selalu berpasir
Haruskah cinta selalu memiliki?

-10 Nov '14-

Sabtu, 18 Oktober 2014

Pencemburu

Maafkan,
Aku pencemburu ulung,
Kala yang kulihat
lengkung senyummu tercipta untuknya
Kala derai tawamu berdesir karenanya

Maafkan,
Aku pencemburu ulung,
Bila yang terlukis di bola matamu adalah wajahnya
Bila yang berjalan di sisimu, dirinya

Maafkan,
Aku hanya bisa menjadi pencemburu
dihadapanmu bersamanya
dalam diamku bersama sepi
melukiskan senyum di wajah
yang kita tahu itu palsu

Biarkan,
Aku hanya menjadi pencemburu
dalam anganku bersamamu
dalam nyataku memimpikanmu

Biarkan,
hanya pada aksara yang membisu ini
kubagi airmata dan senyum bahagiaku
untukmu,
yang bersamanya
tanpa perlu satu sel di dunia ini tahu
hatiku yang bersemi padamu

Minggu, 16 Februari 2014

Luruh Si Bunga

Satu persatu, bunga luruh ke tanah
Bukan menyerah.
Tp berusaha tumbuh di tanah lain.

Satu persatu, bunga luruh ke tanah.
Bukan menyerah.
Tp mencari rumah di tanah lain.

Satu persatu bunga luruh.
Meninggalkan ilalang berdiri.
Tidak sendiri.
Tapi tidak bersama bunga.

Satu persatu bunga luruh.
Meninggalkan ilalang berdiri.
Diterpa angin ribut.
Bertahan,
Tidak sendiri.
Tapi tidak bersama bunga.

Bunga luruh ke tanah
Pergi meninggalkan ilalang.
Ilalang menjerit tangis
Bunga tidak kan kembali.

Sabtu, 06 April 2013

Elegi Jakarta #2 : Peduli Apa?

ELEGI JAKARTA #2
Masih disini, melihat yang biasa dilihat.
Mendengar yang biasa didengar.
Tetapi merasa yang tidak biasa dirasa.
Memikirkan yang tidak biasa dipikirkan.
Di tengah jerit kebosanan Jakarta,
menyaksikan eleginya.



PEDULI APA? 

Jumat, 5 April 2013
Di gaduhnya lampu merah cempaka mas pukul sembilan malam.

Mobil-mobil masih taat pada lampu yang terpancang di sudut sana.
Beberapa motor melewati garis berhenti antara sabar dan tidak.
Di kejauhan beberapa orang mulai mendatangi mobil-mobil yang berbaris rapi dihadapan raja jalan,
menanti-nanti kapan diijinkan berjalan.
Diantara yang beberapa itu salah satunya memegang kemoceng.Lusuh.
Seorang ibu,yang entah sudah berapa lama menginjak tajamnya jakarta sendirian tanpa alas.
Menebas debu-debu jalanan yang memeluk kaca mobil dengan erat.
Dan pergi dengan sia-sia bersama lambaian tangan yang acuhkannya.
Sang Prajurit Debu belum menyerah.
Dihampirinya mobil demi mobil. Putih, hitam, biru, hijau, merah.
Peduli apa?

Jumat, 24 Agustus 2012

Elegi Jakarta #1 : Tiga Pejuang Malam

ELEGI JAKARTA #1
Waktu menghitung mundur, perlahan-lahan mendekati hari lebaran.
Sebuah mobil melaju membelah keheningan malam Bekasi - Jakarta.
Beberapa insan di dalamnya memacu mimpi-mimpi. Berusaha mengejar cita. Mencari penghasilan bermodalkan jakarta.



TIGA PEJUANG MALAM

Sabtu,18 Agustus 2012
di dinginnya perempatan senen pukul tiga pagi.

Segelintir mobil mewah berhenti dipaksa si merah.
Seorang pengendara membuka jendela mobilnya. Membuang sebatang korek api bersamaan dengan menyembulnya asap putih dari dalam.
Menatap hampa lajur transjakarta disebelahnya sambil menghisap dalam rokok yang terselip di antara kedua jarinya.

Jumat, 27 Juli 2012

Tentang Aku dan Kamu

Ini cerita tentang aku dan kamu,
yang bersama merangkul malam
yang bergandingan tangan melalui liku hidup
yang menertawakan kemunafikan dunia di depan mata

Ini cerita tentang aku dan kamu,
yang tersenyum dengan senja
yang menari bersama matahari
yang bernyanyi ditemani bulan.

Ini cerita tentang aku dan kamu,
anak manusia yang bersenandung gita cinta
pun nestapa membayang mengais luka
mengoyak asa.

Tapi, ini cerita tetap tentang aku dan kamu.
aku dan kamu yang tidak pernah kan lupakan
tajamnya dunia ini.
aku dan kamu yang tidak pernah berhenti mencoba,
mengarungi dunia.

-6 Juli 2012-

Senin, 02 Juli 2012

Nyanyian Hati yang Disengat Rindu #2

Aku terus terjerat dengan duniaku bersama pena dan secarik kertas
Memainkan mereka di tengah kesyahduan relung gelap
Menikmati tarian mereka hingga menjadi selarik puisi.
Nestapa menyapa,
tatkala kulepas mereka.
Sembari bayangmu datang di pelupuk mataku.
Meresapi senyum yang tajam menggoda dan membuatku terlena menikmati khayalan dirimu.
Membayangkan setiap lekuk di wajahmu.
Harum aroma tubuhmu
Yang terus berlari dan menari
Mengacak-acak logika.
Tanpa menyisakan sedikitpun ruang di benakku untuk berfikir.
Dan ketika terjaga membuatku jatuh
Terpuruk dalam sebuah lubang besar yang bernama rindu.

Nyanyian Hati yang Disengat Rindu #1

Terkungkung di sebuah kegelapan
Terjerat dalam kesunyian juga kesendirian
Goresan pena bagai alunan lagu
Membelai telinga di tengah hening yang mengikat
Mengisi ruang-ruang hampa di setiap sudutnya
Dan mataku terpaku pada lembar kosong di hadapan, yang perlahan mulai terisi dengan aksara melalui tarian pena bersama melodi yang menemaninya
Isinya, hanyalah bualan belaka.
Omong kosong dan ucap cinta yg tidak mampu diucapkan mulut nan kelu
Rangkaian sajak indah yang hanya akan mengisi laci almari
Pun nantinya akan dihanyutkan, bersama sejuta angan-angan dan rindu di pantai asa.
Kelak.

Kamis, 24 Maret 2011

Kasihmu Nirwana Hidupku

Tegak ku disana
Mengaharap suatu kan kembali seperti dulu
Di saat kau dan aku tak terpisah

Tawamu bagai surya pagiku,
bersinar di hari-hari mendungku
Ceriamu bagai udara malamku,
berhembus semilir di tengah pengap hariku
Kasihmu bagai telaga tak berbatas,
Mengairi gersangnya hidupku,
di dunia yang sakit ini.

Hujan yang menyepuh tanah menjadi liat,
Lembayung senja yang mengukir indah sang mega,
Dan angin yang melantunkan simfoni dedaunan,
Itulah dirimu.

Kau yang membuat hari ini berarti
Tangis dan tawa kita menyatu,
Suka dan derita kita mengalir

Bersamamu,
tak pernah ku sesalkan hariku
Bersamamu,
tak kan pernah kulupa sedetikpun
Meski waktu berlari mengejar
Meski ego kan terdepan
Meski jarak kan terbentang

Dengarlah seruanku ini,
meskipun pikiran kan meninggalkanku dan lupakanmu
Hatiku tetap hidup disini
Menyimpan serpihan kasih dan segebung kenangan tentang kita

Karena setitik kasihmu,adalah nirwana hidupku



Senin,21 Juni 2010