ELEGI JAKARTA #2
Masih disini, melihat yang biasa dilihat.
Mendengar yang biasa didengar.
Tetapi merasa yang tidak biasa dirasa.
Memikirkan yang tidak biasa dipikirkan.
Di tengah jerit kebosanan Jakarta,
menyaksikan eleginya.
PEDULI APA?
Jumat, 5 April 2013
Di gaduhnya lampu merah cempaka mas pukul sembilan malam.
Mobil-mobil masih taat pada lampu yang terpancang di sudut sana.
Beberapa motor melewati garis berhenti antara sabar dan tidak.
Di kejauhan beberapa orang mulai mendatangi mobil-mobil yang berbaris rapi dihadapan raja jalan,
menanti-nanti kapan diijinkan berjalan.
Diantara yang beberapa itu salah satunya memegang kemoceng.Lusuh.
Seorang ibu,yang entah sudah berapa lama menginjak tajamnya jakarta sendirian tanpa alas.
Menebas debu-debu jalanan yang memeluk kaca mobil dengan erat.
Dan pergi dengan sia-sia bersama lambaian tangan yang acuhkannya.
Sang Prajurit Debu belum menyerah.
Dihampirinya mobil demi mobil. Putih, hitam, biru, hijau, merah.
Peduli apa?
Disini gue hanya ingin berbagi hasil kreasi gue. Dengan maksud sebagai hiburan atau lebih bagus lg bila bisa menjadi inspirasi... Yang mau baca dipersilakan yang mau sekedar berkomentar juga silakan... Jika punya kritik dan saran untuk karya"nya, komen aja yaa. Selamat menikmati~ Ingat! Pembaca yg baik adalah pembaca yg meninggalkan jejak :D
Sabtu, 06 April 2013
Rabu, 19 September 2012
Dari dan Hingga Kapan
"Ci.... Jamu ga?"
Suara itu yang selalu kudengar setiap pukul sembilan di hari Minggu pagi. Ketika aku melongok ke pintu depan rumahku, Mbok Yu bertanya dengan lembut: "Jamu gak non?"
Dan aku keluar untuk membukakan pintu pagar bagi dia.
"Iya, mbok. Masuk dulu. Bentar yah." jawabku sambil mempersilakan dia duduk,di teras rumah yang tidak berkursi. Lekas aku pergi mengambil gelas, sementara mbok melepaskan gendongannya dan duduk beralaskan keramik.
Tidak ada yang tahu siapa nama aslinya. Sejak kecil aku sudah memanggilnya Mbok Ayu, pedagang jamu gendong keliling. Entah sejak umur berapa aku mulai mengenalnya. Meminum jamu yang diraciknya. Menikmati hasil alam yang diperindahnya. Tidak setiap minggu, memang.
Aku menyerahkan cangkirku, "Beras kencur ya, mbok." pesanku.
"Aduh, ga berasa yah. Dulu buyung upik sekarang beras kencur. Udah pada gede-gede semua yah." katanya setelah menatapku dan kakakku -yang baru keluar- bergantian.
Tangannya yang sudah keriput mengambil botol demi botol, meracik jamu yang kupesan.
"Pake asem?" tanyanya dengan lembut dan membuyarkan lamunanku. Aku hanya menganggukdan menatapnya. Dan terus menatapnya.
Ah, mengapa wajahnya tidak berubah? Tanya dalam benakku. Padahal aku sudah beranjak remaja, dan Mbok Yu? Wajahnya seperti tidak menua. Itukah berkat dari Tuhan? Karena ia mengolah ciptaan-Nya sesuai fungsinya.
Suara itu yang selalu kudengar setiap pukul sembilan di hari Minggu pagi. Ketika aku melongok ke pintu depan rumahku, Mbok Yu bertanya dengan lembut: "Jamu gak non?"
Dan aku keluar untuk membukakan pintu pagar bagi dia.
"Iya, mbok. Masuk dulu. Bentar yah." jawabku sambil mempersilakan dia duduk,di teras rumah yang tidak berkursi. Lekas aku pergi mengambil gelas, sementara mbok melepaskan gendongannya dan duduk beralaskan keramik.
Tidak ada yang tahu siapa nama aslinya. Sejak kecil aku sudah memanggilnya Mbok Ayu, pedagang jamu gendong keliling. Entah sejak umur berapa aku mulai mengenalnya. Meminum jamu yang diraciknya. Menikmati hasil alam yang diperindahnya. Tidak setiap minggu, memang.
Aku menyerahkan cangkirku, "Beras kencur ya, mbok." pesanku.
"Aduh, ga berasa yah. Dulu buyung upik sekarang beras kencur. Udah pada gede-gede semua yah." katanya setelah menatapku dan kakakku -yang baru keluar- bergantian.
Tangannya yang sudah keriput mengambil botol demi botol, meracik jamu yang kupesan.
"Pake asem?" tanyanya dengan lembut dan membuyarkan lamunanku. Aku hanya menganggukdan menatapnya. Dan terus menatapnya.
Ah, mengapa wajahnya tidak berubah? Tanya dalam benakku. Padahal aku sudah beranjak remaja, dan Mbok Yu? Wajahnya seperti tidak menua. Itukah berkat dari Tuhan? Karena ia mengolah ciptaan-Nya sesuai fungsinya.
Jumat, 24 Agustus 2012
Elegi Jakarta #1 : Tiga Pejuang Malam
ELEGI JAKARTA #1
Waktu menghitung mundur, perlahan-lahan mendekati hari lebaran.
Sebuah mobil melaju membelah keheningan malam Bekasi - Jakarta.
Beberapa insan di dalamnya memacu mimpi-mimpi. Berusaha mengejar cita. Mencari penghasilan bermodalkan jakarta.
TIGA PEJUANG MALAM
Sabtu,18 Agustus 2012
di dinginnya perempatan senen pukul tiga pagi.
Segelintir mobil mewah berhenti dipaksa si merah.
Seorang pengendara membuka jendela mobilnya. Membuang sebatang korek api bersamaan dengan menyembulnya asap putih dari dalam.
Menatap hampa lajur transjakarta disebelahnya sambil menghisap dalam rokok yang terselip di antara kedua jarinya.
Waktu menghitung mundur, perlahan-lahan mendekati hari lebaran.
Sebuah mobil melaju membelah keheningan malam Bekasi - Jakarta.
Beberapa insan di dalamnya memacu mimpi-mimpi. Berusaha mengejar cita. Mencari penghasilan bermodalkan jakarta.
TIGA PEJUANG MALAM
Sabtu,18 Agustus 2012
di dinginnya perempatan senen pukul tiga pagi.
Segelintir mobil mewah berhenti dipaksa si merah.
Seorang pengendara membuka jendela mobilnya. Membuang sebatang korek api bersamaan dengan menyembulnya asap putih dari dalam.
Menatap hampa lajur transjakarta disebelahnya sambil menghisap dalam rokok yang terselip di antara kedua jarinya.
Jumat, 27 Juli 2012
Tentang Aku dan Kamu
Ini cerita tentang aku dan kamu,
yang bersama merangkul malam
yang bergandingan tangan melalui liku hidup
yang menertawakan kemunafikan dunia di depan mata
Ini cerita tentang aku dan kamu,
yang tersenyum dengan senja
yang menari bersama matahari
yang bernyanyi ditemani bulan.
Ini cerita tentang aku dan kamu,
anak manusia yang bersenandung gita cinta
pun nestapa membayang mengais luka
mengoyak asa.
Tapi, ini cerita tetap tentang aku dan kamu.
aku dan kamu yang tidak pernah kan lupakan
tajamnya dunia ini.
aku dan kamu yang tidak pernah berhenti mencoba,
mengarungi dunia.
-6 Juli 2012-
yang bersama merangkul malam
yang bergandingan tangan melalui liku hidup
yang menertawakan kemunafikan dunia di depan mata
Ini cerita tentang aku dan kamu,
yang tersenyum dengan senja
yang menari bersama matahari
yang bernyanyi ditemani bulan.
Ini cerita tentang aku dan kamu,
anak manusia yang bersenandung gita cinta
pun nestapa membayang mengais luka
mengoyak asa.
Tapi, ini cerita tetap tentang aku dan kamu.
aku dan kamu yang tidak pernah kan lupakan
tajamnya dunia ini.
aku dan kamu yang tidak pernah berhenti mencoba,
mengarungi dunia.
-6 Juli 2012-
Kamis, 26 Juli 2012
Cinta Sebangku
“Vira, kamu pindah sama Dimas!” ucap Bu. Widya sambil lalu saat perwalian kelas 9 hari ini. Bu. Widya memang sedang menata ulang tempat duduk kelas 9c. Dan masyarakat kelas tentu tidak setuju, tidak sedikit juga yang sudah pasrah. Tapi apa mau dikata? Perkataan Bu. Widya adalah undang-undang yang berlaku di kelas ini.
“Apa???!! Sama Dimas??!” teriak Vira tidak percaya dan meletakkan kembali buku yang tadi sudah dijinjingnya di atas meja.
“Iya! Dengan Dimas. Kalau kamu keberatan, kamu boleh keluar kelas. Ingat komitmen yang sudah kita buat?” sahut Bu. Widya tenang.
Terseok-seok Vira berjalan melewati beberapa kursi dibelakangnya. Wajahnya sudah muram, dan dia sudah tidak berminat lagi untuk berbicara.
“Minggir!!” bentak Vira kepada Dimas yang sudah menempati tempatnya di sebelah jendela. “Gue mau deket jendela.”
“Yaelah, biasa aja kek ngomongnya. Pendengaran gue masih baik-baik aja kali!” sahut Dimas yang tampak sangat tenang. Sambil memindahkan tas dan beberapa barangnya ke kursi sebelah.
“Apa???!! Sama Dimas??!” teriak Vira tidak percaya dan meletakkan kembali buku yang tadi sudah dijinjingnya di atas meja.
“Iya! Dengan Dimas. Kalau kamu keberatan, kamu boleh keluar kelas. Ingat komitmen yang sudah kita buat?” sahut Bu. Widya tenang.
Terseok-seok Vira berjalan melewati beberapa kursi dibelakangnya. Wajahnya sudah muram, dan dia sudah tidak berminat lagi untuk berbicara.
“Minggir!!” bentak Vira kepada Dimas yang sudah menempati tempatnya di sebelah jendela. “Gue mau deket jendela.”
“Yaelah, biasa aja kek ngomongnya. Pendengaran gue masih baik-baik aja kali!” sahut Dimas yang tampak sangat tenang. Sambil memindahkan tas dan beberapa barangnya ke kursi sebelah.
Senin, 02 Juli 2012
Nyanyian Hati yang Disengat Rindu #2
Aku terus terjerat dengan duniaku bersama pena dan secarik kertas
Memainkan mereka di tengah kesyahduan relung gelap
Menikmati tarian mereka hingga menjadi selarik puisi.
Nestapa menyapa,
tatkala kulepas mereka.
Sembari bayangmu datang di pelupuk mataku.
Meresapi senyum yang tajam menggoda dan membuatku terlena menikmati khayalan dirimu.
Membayangkan setiap lekuk di wajahmu.
Harum aroma tubuhmu
Yang terus berlari dan menari
Mengacak-acak logika.
Tanpa menyisakan sedikitpun ruang di benakku untuk berfikir.
Dan ketika terjaga membuatku jatuh
Terpuruk dalam sebuah lubang besar yang bernama rindu.
Memainkan mereka di tengah kesyahduan relung gelap
Menikmati tarian mereka hingga menjadi selarik puisi.
Nestapa menyapa,
tatkala kulepas mereka.
Sembari bayangmu datang di pelupuk mataku.
Meresapi senyum yang tajam menggoda dan membuatku terlena menikmati khayalan dirimu.
Membayangkan setiap lekuk di wajahmu.
Harum aroma tubuhmu
Yang terus berlari dan menari
Mengacak-acak logika.
Tanpa menyisakan sedikitpun ruang di benakku untuk berfikir.
Dan ketika terjaga membuatku jatuh
Terpuruk dalam sebuah lubang besar yang bernama rindu.
Nyanyian Hati yang Disengat Rindu #1
Terkungkung di sebuah kegelapan
Terjerat dalam kesunyian juga kesendirian
Goresan pena bagai alunan lagu
Membelai telinga di tengah hening yang mengikat
Mengisi ruang-ruang hampa di setiap sudutnya
Dan mataku terpaku pada lembar kosong di hadapan, yang perlahan mulai terisi dengan aksara melalui tarian pena bersama melodi yang menemaninya
Isinya, hanyalah bualan belaka.
Omong kosong dan ucap cinta yg tidak mampu diucapkan mulut nan kelu
Rangkaian sajak indah yang hanya akan mengisi laci almari
Pun nantinya akan dihanyutkan, bersama sejuta angan-angan dan rindu di pantai asa.
Kelak.
Terjerat dalam kesunyian juga kesendirian
Goresan pena bagai alunan lagu
Membelai telinga di tengah hening yang mengikat
Mengisi ruang-ruang hampa di setiap sudutnya
Dan mataku terpaku pada lembar kosong di hadapan, yang perlahan mulai terisi dengan aksara melalui tarian pena bersama melodi yang menemaninya
Isinya, hanyalah bualan belaka.
Omong kosong dan ucap cinta yg tidak mampu diucapkan mulut nan kelu
Rangkaian sajak indah yang hanya akan mengisi laci almari
Pun nantinya akan dihanyutkan, bersama sejuta angan-angan dan rindu di pantai asa.
Kelak.
Langganan:
Postingan (Atom)