Kamis, 26 Juli 2012

Cinta Sebangku

    “Vira, kamu pindah sama Dimas!” ucap Bu. Widya sambil lalu saat perwalian kelas 9 hari ini. Bu. Widya memang sedang menata ulang tempat duduk kelas 9c. Dan masyarakat kelas tentu tidak setuju, tidak sedikit juga yang sudah pasrah. Tapi apa mau dikata? Perkataan Bu. Widya adalah undang-undang yang berlaku di kelas ini.
    “Apa???!! Sama Dimas??!” teriak Vira tidak percaya dan meletakkan kembali buku yang tadi sudah dijinjingnya di atas meja.
    “Iya! Dengan Dimas. Kalau kamu keberatan, kamu boleh keluar kelas. Ingat komitmen yang sudah kita buat?”  sahut Bu. Widya tenang.
Terseok-seok Vira berjalan melewati beberapa kursi dibelakangnya. Wajahnya sudah muram, dan dia sudah tidak berminat lagi untuk berbicara.
    “Minggir!!” bentak Vira kepada Dimas yang sudah menempati tempatnya di sebelah jendela. “Gue mau deket jendela.”
    “Yaelah, biasa aja kek ngomongnya. Pendengaran gue masih baik-baik aja kali!” sahut Dimas yang tampak sangat tenang. Sambil memindahkan tas dan beberapa barangnya ke kursi sebelah.

    Vira dan Dimas bukan musuh bebuyutan. Tetapi sejak kelas 1 SMP mereka selalu sekelas, meskipun tidak sebangku. Maka ini adalah kali pertama mereka duduk sebangku.
Vira adalah cewek tulen. Tidak cerewet memang, tetapi cukup merepotkan. Dia seorang yang perfeksionis dan berusaha melakukan tugasnya dengan kesalahan seminim mungkin. Dan bila ada yang mengganggunya ketika sedang mengerjakan tugas, dia tidak segan-segan mencubit ataupun berteriak.
Sementara Dimas adalah cowok yang super santai. Saking santainya dia tidak pernah belajar saat ulangan. Tetapi memang dasar pintar, tidak belajar pun nilainya tetap diatas standart. Tugas selalu dikerjakannya dengan bertanggung jawab, dua puluh menit sebelum waktu dikumpulkan.

    Dimas tidak pernah mengganggu Vira. Tetapi selalu memandang sebelah mata apapun yang dikatakan Vira. Dan sebagai seorang yang perfeksionis tentu dia tidak senang diperlakukan demikian.

MINGGU PERTAMA
    “Jangan deket-deket gw kenapa sih?!” seru Vira gusar saat Dimas duduk di kursinya pagi hari.
    “ Apa sih,Vir? Baru aja dateng, baru aja duduk, belom ngapa-ngapain udah harus denger lo ngomel. Santai dikit kenapa sih jadi orang.”  Gerutu Dimas sambil menggeser sedikit kursinya.

MINGGU KEDUA
    “Jangan berisik deh… Nyanyi mulu, kayak suara lo bagus aja.”  dengus Vira sembari tetap menunduk mengerjakan tugas.
    “Astaga, Vira!! Salah gue apa coba? Lo ga tau lagunya? Ya udah, gue ganti lagu deh…”  jawab Dimas sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. “ Lo mau lagu apa? Simple Plan? Blink 182? Atau Green Day?”
    “Gue gak suka lagu gituan. Gue sukanya Jason M’raz.” sahut Vira melunak.
    “Dasar cewek, sukanya yang melow-melow.”
Tetapi meskipun begitu, tetap saja dia menyanyikan Live High dari Jason M’raz. Dan diam-diam, Vira menikmatinya.

MINGGU KETIGA
    “Pinjem PR lo bentar dong! Gue mau nyocokin jawaban.” sapa Dimas saat bertemu Vira pagi hari.
    “Nyocokin atau nyalin?” sahut Vira sambil melirik Dimas yang sedang melepaskan jaket dan tasnya. Lama-lama dia harus mengakui, bahwa Dimas bukan sejenis laki-laki yang bisa dihindari begitu saja. Meskipun setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar menyebalkan.
Lihat saja gayanya ketika menaruh tasnya, dan melepaskan jaketnya. Sambil disindirpun dia tetap terlihat tenang dan hanya menyahut dengan santai.
    “Yaelah, masih aja gak percaya sama gue. Pernah liat gue ngerjain PR di sekolah?” balas Dimas sambil tersenyum meyakinkan, memalingkan wajahnya menatap Vira.
Sejenak mereka beradu pandang dan sesaat Vira membeku. Tetapi di detik berikutnya, dia buru-buru mengembalikan tatapan matanya ke buku yang sedang dibaca dan mengambil sebuah buku dari laci mejanya. Diletakkan buku itu sambil lalu diatas meja Dimas.
    “Thank you, Vira!!” ujarnya setelah menepuk bahu Vira.

MINGGU KEEMPAT

    “Eh Vir, balik naik apa lo? Gue nebeng dong!” seru Dimas setelah bel tanda pulang berbunyi.
    “Emang kemana kakak lo? Gak naik motor?”
    “Nggak, lagi sakit dia.”
    “Oh… Salam yah.” Jawab Vira sambil lalu, dan pergi meninggalkan kursinya.
    “Eh, lo naik apa?! Pertanyaan gue gak lo jawab!”
    “Angkot banyak kali. Naik angkot aja sih… Gue naik angkot.”
    “Ya udah, bareng lah!”
    “Kenapa bareng sama gue? Emang kenapa si Rudi sama Deny?”
    “Kalau gue maunya sama lo gimana?”
Dan dunia terasa berhenti sejenak untuk Vira. Serasa melayang? Mungkin. Karena seketika Vira tidak tahu, harus menjawab atau pergi begitu saja.  Kalau mau menjawab, harus menjawab apa?
Kalau pergi begitu saja, berarti membohongi diri sendiri. Vira pun menyadari perasaan yang perlahan tapi pasti tumbuh di hatinya, setelah duduk sebangku selama satu bulan dengan Dimas. Dia terlalu menarik. Entah mengapa baru disadarinya sekarang? Padahal, sudah dua tahun lebih Vira mengenalnya. Tetapi baru sekarang dia benar-benar mengenalnya.
    “Maksud lo?” akhirnya mulut kelunya berbicara tanpa disadarinya.
Di kelas yang sudah sepi itu, Dimas akhirnya meruntuhkan dinding gengsinya.
    “Be mine. Will you?”  sahutnya singkat dengan senyum yang selalu dikagumi Vira sembari mengulurkan tangannya.
Vira hanya mampu tersenyum, tersipu malu dan mengangguk. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tapi anggukan itu cukup, untuk membuat dua hati yang berbeda menemukan jembatannya. Dan bertemu di suatu tempat, bernama cinta.



Minggu pertama dia biasa saja
Minggu kedua dia istimewa
Minggu ketiga ku jatuh cinta
Akankah dia rasakan juga…..

Cintaku cinta sebangku
Cinta bersemi karna sering bertemu
Cintaku cinta sebangku
Cinta itu ada karna terbiasa
Song by: The Doors Garden (Gabriel Indripriarko), title: Cinta Sebangku


Story by: W. Nadya. K


2 komentar:

  1. bagus Nad.....
    lanjutin nulisnya, siapa tau bisa jadi uang....oke...???

    _Bu Sisca_

    BalasHapus