Minggu, 16 Februari 2014

Bila

Bila suatu hari aku dapat mengulangnya, aku ingin. Amat ingin...
Kukenakan pakaian seragam putih-biru seusai menyegarkan diri di pagi hari.
Dasi biru menyilang, menggantung di kerahku.
Hingga pukul 06.50, baru aku membuka pagar,
Setelah ucapkan salam, bergegas aku berangkat.
Setiba di sekolah, lapangan sudah sepi.
Nampaknya bel masuk sudah berdering, pikirku.
Tanpa niat mempercepat langkah, aku mengintip lewat gerbang samping.
Rupanya guru piket belum berjaga di mejanya.
Lekas-lekas aku menyelusup masuk ke kelas yang berada di sebelah kiri pintu gerbang.
Langsung saja seloroh teman sekelas menyapaku. Tertawa. Meledek. Menegur.
Tapi kulanjutkan jalanku hingga tiba di mejaku. Barisan paling depan. Sambil tetap tertawa menimpali mereka yang masih menertawakan kenekatanku, datang terlambat.
Atau
Di hari saat aku menyapa sekolah tepat waktu.
Kuletakkan tas biru hitam lusuh di kursiku, masih baris depan.
Kuhela jaket biru yang selalu temani ku, kulingkupi sandaran kursiku dengannya.
Kurapikan kemeja ku yang terlipat.
Kutenggak air dari botolku.
Di detik berikutnya,
datang dia...

Menggunakan jaket hitam,
dengan kedua tangan bersembunyi di kantong celana.
Meletakkan tas hitamnya di sebelah kursiku.
Kusapa dengan senyum, "Tumben dateng cepet?"
Lalu dengan ekor mata, kulihat dia yang bersandar di meja separuh terpejam.
Kusapanya, "Woi, begadang lagi semalem?"
Dijawabnya dengan lambaian tangan.
Lalu kusapa mereka yang berada di koridor kelas.
Di detik berikutnya,
datang dia...
Cukup tergesa-gesa,
Dengan rambut panjang yang diekor kuda, berhias jepit biru muda di kepalanya.
Melewatiku sambil melambaikan tangan menebar senyum.
Yah, aku tahu persis tujuannya.
Selepasnya dari toilet, dia menghampiriku.
Menemaniku dengan perbincangan hangat.
Di detik berikutnya,
datang dia...
Cukup tergesa-gesa,
Dengan jaket kuning hitam menyala, dan ransel hijau.
Separuh berlari, masuk ke kelas.
Tidak lama kemudian, dia pun bergabung dengan kami.
Bercerita dengan antusias.
Apa yang diceritakan? Entahlah, aku tidak ingat.
Aku hanya ingat,
Dia yang tidak pernah lepas dari segelas granita di pagi hari.
Dia yang selalu tampil feminin.
Dia yang datang dengan kecerobohannya.
Dia yang selalu menghabiskan malam dengan pertandingan bola.
Bila suatu hari dapat kuulangi,
Aku amat ingin,
Tertawa bersama lagi di setiap paginya.
Makan bersama lagi setiap istirahat.
Saling memberi semangat di setiap kesempatan.
Dengan mereka,
Cukup mereka.
Karena bila jantung ini berdetak, menjeritkan kerinduan
Rupanya tetap mereka yang selalu kurindu...
Vieri 
Hanna - Wistha - Daniel
- Never get a reason to stop loving them -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar