I
“Yovanka Katarina Anggraini Dwiastuti!” panggil Pak Sutyo dengan suara yang mampu meruntuhkan jantung setiap orang yang mendengarnya.
“Iya,Pak.” Jawab Vanka sembari berdiri dari tempat duduknya.
“Sini kamu! Jadi anak cewek kok males! Apa-apaan ini?! Buku PR kosong melompong! Kamu kira saya bisa dibodohi!” omel Pak Sutyo setelah mendapati buku PR Vanka kosong.
Dengan wajah tanpa dosa Vanka menghampiri Pak Sutyo yang sudah siap menyemprotnya lagi dengan ‘karangan’nya. Tapi ia menoleh sejenak saat melewati meja Yosua. Mulutnya berkomat-kamit dengan suara yang tidak satu semutpun dapat mendengar, sambil tersenyum pahit kepada Yosua. Kalau bisa diterka kira-kira bunyinya “Mati gue.”
Dan Yosua hanya bisa tertawa kecil.
Vanka hanya segelintir dari murid-murid Pak Sutyo lainnya, yang tidak menyukai pelajarannya. Sebenarnya bukan salah Pak Sutyo kalau anak-anak tidak menyukai pelajaran fisika. Menurutnya, “Fisika itu sebenarnya mudah, kalau kalian lebih sering memperhatikan papan tulis daripada membuat gambar-gambar tidak jelas di balik buku kalian.”
Tapi apa yang mau diperhatikan? Pak Sutyo sangat malas melukiskan tulisannya di atas papan tulis.
Jika hari ini Vanka kedapatan tidak mengerjakan PR, itu pasti karena tidak ada satupun soal yang dia mengerti. Kalau sudah begitu biasanya dia tinggal menyalin pekerjaan temannya. Tapi sayangnya hari ini dia datang terlambat. Hanya beberapa detik sebelum Pak Sutyo masuk ke kelasnya. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal Vanka duduk di kursinya sambil mendengarkan ocehan Pak Sutyo yang mencak-mencak karena di lewati begitu saja oleh Vanka di lorong tadi.
Nah, jadilah Vanka mengumpulkan buku PR yang masih kosong-melompong. Daripada tidak mengumpulkan, guru yang sudah harus masuk museum ini bisa lebih murka lagi. Baginya buku seorang ketua kelas lebih ‘benar’ daripada yang lainnya. Tapi tidak dengan Vanka, ketua kelas 9D ini benar-benar lain dari yang lain.
Jabatan ketua kelasnya tidak berhasil mengusir ‘ke-gila-annya’,begitu anak-anak menyebutnya.
Tidak benar-benar gila. Hanya saja ketika yang lain sedang mengerjakan ulangan sejarah, dia malah mengulum permen. Ketika yang lain mengerjakan PS bahasa Inggris, dia malah sibuk dengan alfalinknya. Dan kalau sudah jam istirahat, biasanya dia akan berkumpul bersama dengan Yosua, Wanto, Yuri, dan Eka. Bukan untuk makan bersama seperti yang anak-anak lain lakukan. Tetapi mereka akan memulai tingkah laku mereka yang konyol, dan membuat siapapun yang melihatnya akan tertawa tergelak-gelak.
“Ngapain sih jadi jaim,seruan kayak gini.” Jawab Vanka bila salah satu temannya menanyakan, mengapa dia tidak malu bertingkah demikian.
Tetapi meskipun polahnya konyol, Vanka selalu berhasil menjamah 3 besar dalam kelasnya. Rengking 1,2,dan 3 sudah pernah dicicipinya. Dan tidak pernah kurang dari itu.
Dan sifatnya yang tomboy membuat dia disenangi teman-temannya, karena dialah yang selalu berani membela rekan-rekannya dari sentuhan guru-guru. Jika mereka benar, tentunya.
Meskipun rambutnya panjang sebahu, Vanka tidak seperti anak cewek lainnya. Dia tidak akan berteriak-teriak jika melihat kecoak, tetapi malahan langsung menginjaknya.
Dia tidak akan mengeluh manja pada guru olah raganya yang masih berusia dua puluh dua tahun, jika di suruh lari keliling lapangan sepuluh kali.
Entah ada apanya guru yang satu itu. Ganteng, tidak. Keren, apalagi. Tubuhnya memang atletis. Tidak terlalu berotot seperti Ade Ray, tapi juga tidak terlalu kerempeng seperti Aming. Pokoknya ideal dengan tingginya yang mencapai 183 cm itu.
Teman-teman sekelas Vanka selalu menggandrunginya. Jadi bukan hal yang baru kalau saat pelajaran olah raga menjadi ajang mencari perhatian Pak Lius.
Saat diisengi teman laki-lakinya Vanka juga bukan malah berteriak-teriak marah.
Seperti kemarin, saat Bu Nana tidak masuk. Kelas jadi gaduh, dan apa daya Vanka. Setiap meminta mereka diam, mereka memang diam. Untuk 5 menit pertama. 5 menit berikutnya jangan di tanya lagi, suasana sudah seperti semula. Dan Vanka hanya bisa terdiam di mejanya. Mengawasi pemandangan yang kelak akan dirindukannya, saat mereka berpisah nanti.
Tiba-tiba saja Rudi dan Leo sudah berada di belakangnya, dan langsung mengambil tas Vanka.
Dan mereka berlari mengambil kursi, dan meletakan tasnya di paku di atas daun jendela. Bukan hal yang sulit untuk anak laki-laki dengan badan tinggi seperti mereka untuk meletakan benda yang lumayan berat itu kesana. Tapi bukan hal yang sulit juga untuk perempuan separuh cowok ini untuk mengambilnya kembali. Tinggi badannya cukup untuk mempermalukan laki-laki, 154 cm. Dengan sigap dia menarik kembali kursinya, dan memanjat kursi itu. Karena masih terlalu tinggi, Vanka naik ke daun jendelanya. Diangkat roknya agar tidak mengganggu geraknya. Dan ‘seet’! Tasnya sudah berada lagi dalam genggamannya. Langsung saja dia lompat dari daun jendela, diiringi oleh sorak riuh teman-temannya. Ada yang mengejek. Ada juga yang terkagum-kagum.
“Cewek kok lagaknya kayak gitu? Pantesan gak ada yang mau!” seloroh salah satu teman laki-lakinya. Dan dia tidak memperdulikan kata-kata tersebut. Buang-buang waktu saja.
“Gila! Lu emang the best banget,Ka! Kayaknya Tuhan salah deh waktu nyiptain lu. Mestinya lu tuh cowok!” yang ini kata-kata pujian dari Eka.
“Sialan lu! Tuhan juga masih kasian kali kalau gue ampe jadi cowok. Terlalu lo ahh.”
Dan biasanya mereka akan mengakhiri dengan tertawa bersama.
Tapi tawa mereka tidak berumur lama. Selang beberapa detik, Bu.Florence masuk ke kelas mereka. Karena ternyata kegaduhan sudah sampai ke ruang guru. Hanya sepersekian detik sebelum Bu Florence sampai di ambang pintu kelas, kelas sudah rapi kembali. Semua yang sedari tadi berkelian sudah meletakan panggulnya kembali di kursi masing-masing. Dan semua buku yang ada di dalam laci meja juga sudah menghirup kebebasan kembali. Semua seolah-olah sibuk dengan pekerjaannya. Padahal beberapa detik lalu, ketua kelasnya sedang memanjat jendela.
“Ada apa ini?” belalak Bu Florence melihat ke seluruh penghuni kelas, seperti seorang polisi yang siap menginterogasi tersangkanya.
“Gak ada apa-apa bu…” jawab seisi kelas teratur.
“Pelajaran siapa? Mana Ketua kelasnya? Sudah ambil tugas belum? Daritadi ribut saja. Kamu kira ibu gak tau apa? Dari tadi kalian teriak-teriakkan?”
“Nggak bu! Perasaan ibu aja kali. Nih dari tadi kita ngerjain tugas yang dititip Bu Nana.” sahut Anto yang paling bandel di kelas 9D.
“Saya gak tanya kamu. Mana Yovanka?” begitu guru-guru memanggil Vanka.
“Saya bu. Kenapa bu?” Jawabnya patuh sambil mengangkat tangan kanannya.
“Kenapa daritadi ribut-ribut? Awas ya kalau nanti ibu dengar suara lagi dari kelas ini.”
“Gak ada yang ribut kok bu. Dari tadi kita ngerjain tugas.” Bela Vanka. Solidaritas memang menjadi hal yang utama dan terutama dalam kelasnya ini. Dalam menghadapi guru tentunya.
Dan bila sudah begitu Bu Florence hanya bisa menghela napas kesal sambil keluar kelas.
*******
Siang-siang begini, setelah pulang sekolah biasanya Vanka tidak langsung pulang. Tetapi mengobrol sebentar dengan yang lainnya. Alasannya sih menunggu metromini yang kosong. Tapi Vanka jarang naik metromini untuk pulang sekolah. Dia biasa menunggu kakak laki-lakinya menjemput. Karena kakaknya belum kuliah, menunggu tahun ajaran baru. Jadi dia magang di sebuah warung makan. Menjadi tukang antar. Gajinya tidak besar, tapi cukup untuk cicilan motor barunya sendiri. Dan yang penting, tidak nganggur. Jam kerjanya sore, jadi dia bisa menjemput Vanka dulu.Tapi hari ini sampai semua temannya sudah pulang, Kak Rio belum datang juga. Kemana dia? Pikir Vanka. Padahal dia sudang lapar berat. Dan panas begini, rasanya ingin mandi, makan dan segera tidur. Sialnya, Kak Rio belum datang juga sampai pukul setengah tiga sore.
Tak sabar lagi, Vanka mencari-cari uang logam dalam tasnya. Setelah lima menit mencari, dia berhasil menemukan sisa-sisa kembalian es krimnya. Dua ratus perak.
Langsung diburunya telfon umum. Ia menghubungi rumahnya. Setelah menunggu lama, telfonnya masuk ke mailbox. Lenyaplah sudah seratus rupiah.
Masih ada seratus lagi, kali ini harus ada yang mengangkat! Siapun itu! Kalau tidak, matilah dia. Harus pulang sama siapa?
Setelah setengah menit menunggu, suara diseberang sana sangat melegakan hatinya.
“Halo!” suara berat itu menjawab telfonnya. Kalau suara berat seperti itu pasti bukan Mas Rio.
“Halo, siapa nih? Mas Rio mana?”
“Ini Angga. Kakak lu tadi pergi. Katanya kalo lu udah nyampe rumah bilangin kalo dia kerja dulu. Gantiin temennya yang gak masuk.”
“Tapi gue belom nyampe. Boro-boro nyampe. Beranjak dari sekolah aja belom. Kok dia gak jemput gue dulu?”
“Lha?! Mana gue tau. Gue Cuma dipesenin gitu.”
“Terus yang jemput gue siapa dong?”
“Emang gak bisa pulang sendiri? Katanya udah kelas 3. Masa naik metromini sekali aja gak bisa.”
“Gue nya bisa, kantong gue yang gak bisa. Udah abis duitnya, ini aja tinggal seratus perak.”
Setelah berpikir sejenak akhirnya Angga memutuskan,
“Ya udah gue jemput lu deh. Jangan kemana-mana! Tunggu di pos satpam aja. Ntar kalo lu ilang gue lagi yang suruh tanggung jawab…”
“Nah, gitu dong. Itu yang gue tunggu daritadi. Iya..iya. Makasih ya!”
“Ya…ya…ya.”
Dan telfon terputus. Tapi sekarang hati Vanka sudah lega. Sangat lega. Untung teman Mas Rio yang satu itu baik. Tidak jadi pulang jalan kaki deh…
Tidak sampai dua puluh menit Angga sudah sampai dengan sepeda motornya. Dan tentunya disambut bahagia oleh Vanka yang hampir mati kekeringan.
“Ya ampun, Mas. Lu emang dewa penolong gue banget.” Sapa Vanka pada Angga.
“Ya udah, cepet deh. Panas nih.”
Selama di motor, Vanka tidak berhenti mengoceh. Teman kakaknya yang satu ini memang lain dari yang lain. Mas Angga lebih bisa diharapkan daripada Mas Rio. Pikirannya sudah dewasa, padahal dia seumuran dengan Mas Rio. Masih 19 tahun. Tapi Vanka sangat senang mencurahkan isi hatinya pada Mas Angga. Jawaban-jawaban dari Mas Angga selalu dapat mengusir kegalauan hatinya. Mas Angga selalu mendukung dan mambantu Vanka dalam tugas-tugas sekolah. Jadi wajar saja kalau Vanka sangat dekat dengan Mas Angga. Sifatnya yang ramah dan senang bercanda membuat Vanka senang berada bersamanya.
Hanya senang dan kagum. Tidak lebih. Rasa sayang Vanka pada Mas Angga tidak lebih dari rasa sayang seorang adik kepada kakaknya. Demikian pula dengan Mas Angga. Maka hubungan mereka tidak lebih dari itu. Kakak dan adik.
Mas angga juga sangat dekat dengan Mas Rio. Rumahnya hanya berbeda dua rumah dari rumah Vanka. Dan setiap hari sebelum kerja bersama Mas Rio, dia datang ke rumah Mas Rio untuk main PlayStation. Atau sekedar mengecek sepeda motornya. Jadi tidak heran kalau Mas Angga yang mengangkat telfon dari Vanka tadi.
“Eh Mas! Tadi pagi gue telat loh. Cuma berapa detik sebelum guru fisika gue masuk. Eh, taunya gue belom ngerjain PR fisika juga. Abis lah gue.” Cerita Vanka penuh semangat.
“Trus? Diapain lu ama dia?” jawabnya sambil tidak berpaling dari jalan.
“Cuma ditulis di buku kasus, sama disuruh buat lagi di depan kelas. Mana gue gak ngerti lagi.”
“Lagian bukannya dikerjain. Main mulu sih lu.”
“Main apaan?! PlayStationnya dimainin terus ama Mas Rio. Lagian gue gak ngerti. Pelajaran dia kan aneh. Kemaren malem lu juga gak ke rumah. Gue mau tanya siapa? Mas Rio susah begitu.” Eluhnya.
“Iya. Kemaren capek banget gue. Pulang kerja langsung pulang gue. Ya udah kalo ada yang gak ngerti lu sms gue aja. Ntar pulang kerja gue mampir dulu.”
“Oke deh!”
******
Pukul tiga lewat Vanka sampai di rumah. Enak sekali rasanya sampai di rumah saat lelah begini. Tanpa menunggu lagi, Vanka langsung menjatuhkan dirinya di sofa panjangnya, hanya sebentar. Malas-malas dia membuka kaos kakinya. Ditaruhnya di dalam sepatu. Dan dia melangkah ke dapur. Memanggil-manggil Mbak Ijah, pembantunya.“Mbak…Mbak… Dimana dirimu? Aku mencarimu.” Panggil Vanka sambil tertawa.
Mbak Ijah yang sedang menyetrika meninggalkan setrikaannya dan menghampiri Vanka.
“Lama amat kamu pulang. Tadi mbak sudah makan duluan deh. Keburu pingsan mbak nunggu kamu sampai jam segini.”
“Sorry deh mbak. Abis Mas Rio gak jemput aku. Tadi kan aku telfon ke rumah. Kok gak ada yang angkat? Mbak tadi kemana? Pacaran yaa…”
“Hus! Ngaco ah kamu. Tadi mbak di kamar mandi. Jadi Mas Angga yang angkat. Untung dia mau jemput kamu. Soalnya ban sepeda mbak lagi kempes, jadi gak bisa jemput kamu.”
“Ya ampun mbak, aku juga gak setega itu kali. Masa aku suruh mbak jemput aku. Bisa meledak betis mbak begitu nyampe sekolahku. Hahaha.”
“Iya deh. Ya udah, kamu ganti baju dulu. Mbak angetin lagi makanannya.”
“Oke deh mbak!”
Mbak Ijah adalah satu-satunya pembantu di rumah Vanka. Dia sudah bekerja sejak Vanka berumur sepuluh tahun. Padahal umurnya saat ini baru dua puluh lima tahun. Meskipun bekerja dalam usia sangat muda, pekerjaannya tidak ada yang tidak baik. Kerjanya rapi dan telaten. Ibu Vanka sengaja mencari pembantu muda seperti Mbak Ijah. Ibunya Mbak Ijah sudah bekerja selama dua puluh tahun pada neneknya Vanka.
Karena usia yang hanya terpaut sepuluh tahun, Vanka menjadi dekat dengan Mbak Ijah. Mbak Ijah pun ramah dan suka bercanda. Tipe yang sangat disenangi oleh Vanka. Tidak heran mereka menjadi sangat cocok. Meskipun Mbak Ijah pembantu, Vanka tidak pernah memperlakukannya seperti babu. Vanka selalu meminta Mbak Ijah menemaninya makan. Karena Mas Rio biasanya sudah makan duluan. Kalau Mbak Ijah sedang sibukpun, Vanka tidak segan-segan membantunya. Seperti mencuci piring atau mengepel kamarnya sendiri. Saat mengerjakan tugas sekolahpun tidak jarang Vanka mengundang Mbak Ijah ke kamarnya, untuk menemaninya. Karena ibunya sangat sibuk.
Ibu Vanka adalah seorang pengusaha. Usahanya sukses dan berkembang ke daerah di luar Jakarta. Seperti di Sumedang dan Cirebon. Karena cabangnya yang di Sumedang baru dibuka lima bulan, Ibu Vanka masih perlu mondar-mandir Jakarta-Sumedang. Bila dua hari ini beliau berada di Jakarta, dua hari berikutnya harus sudah kembali ke Sumedang. Tapi Vanka tidak pernah mengeluh akan keadaan itu. Dia mengerti untuk apa ibu nya harus repot-repot ke Sumedang. Apalagi kalau bukan untuk nasi yang sekarang sedang dikunyahnya dan untuk baju yang sekarang sedang dikenakannya. Itulah Vanka, pengertian.
Ayahnya pun tidak kalah sibuknya. Malah lebih parah. Seorang pengusaha mobil yang harus menetap berbulan-bulan di pulau Kalimantan.
“Di Jakarta sudah banyak pengusaha yang lain. Pasti tidak bisa sesukses di Kalimantan. Lagian kan setiap 3 bulan sekali papa pulang. Tidak masalah lah. Lagipula anak-anak juga sudah besar, sudah bisa mengerti.” Itulah jawaban Ayah Vanka bila ibunya memintanya membuka usahanya di Jakarta.
Rio dan Vanka tidak pernah memprotes. Orangtuanya memang jarang berada di rumah, tapi mereka tidak pernah kekurangan kasih sayang. Rio selalu dikelilingi oleh teman-teman yang solid dan tidak pernah menjerumuskan. Seperti Erlangga, Rendy, Steven, dan yang lainnya.
Vanka pun tidak pernah merasa kesepian. Mbak Ijah, teman-teman di sekolahnya, dan teman-teman Mas Rio yang juga sering bercanda bersamanya. Terutama Erlangga. Namanya sudah keren. Panggilannya pun sudah keren, ‘Angga’. Tapi jika membayangkan posturnya yang keren, Anda kecewa. Bukan tidak ganteng, tetapi karena tubuh Angga yang tambun. Dan bakpau yang ada di pipinya selalu menjadi bulan-bulanan anak-anak setiap mereka sedang kumpul-kumpul di rumah Vanka. Dan dia tidak pernah marah saat anak-anak sedang sibuk tertawa dengan topik ‘bakpau’nya. Dan rumah yang hangat karena penghuninya yang selalu ceria membuat Vanka betah di rumah.
Dia jarang sekali pergi keluyuran. Padahal biasanya anak seumuran dia lebih senang bertemu dengan orang-orang asing di mall daripada harus ketemu keluarga di rumah. Vanka lebih senang membaca buku di ruang tamu sambil mendengarkan canda tawa Mas Rio dan teman-temannya. Kadang dia juga ikut tertawa atau ikut-ikutan menimpali seloroh-seloroh Rendy dan Steven. Tentang apalagi kalau bukan Angga.
Saat makan malampun Vanka selalu mengundang Mas Angga, Mas Rendy, dan Mas Steven yang baru pulang bekerja untuk makan bersama di ruang tamu. Selain Vanka dan Rio, teman-teman merekapun juga betah berada di rumah itu. Padahal rumahnya tidak besar. Hanya empat ruang tidur termasuk untuk pembantu, satu dapur yang merangkap ruang makan, satu ruang tamu yang sekaligus ruang santai, satu kamar mandi, dan satu ruang mencuci sekaligus untuk menjemur dan menyetrika. Dan teras yang diatur sedemikian rupa untuk menciptakan suasana yang temaram setiap melihat ke teras. Perabotan di dalam rumahpun menciptakan suasana tenang dan nyaman. Ditata dalam satu nada.
Bersambung.......
Crita'a bagus :)
BalasHapusMakasih banyak,Fabian untuk komentarnya :D
Hapusterus baca dan komen ya!!