ELEGI JAKARTA #2
Masih disini, melihat yang biasa dilihat.
Mendengar yang biasa didengar.
Tetapi merasa yang tidak biasa dirasa.
Memikirkan yang tidak biasa dipikirkan.
Di tengah jerit kebosanan Jakarta,
menyaksikan eleginya.
PEDULI APA?
Jumat, 5 April 2013
Di gaduhnya lampu merah cempaka mas pukul sembilan malam.
Mobil-mobil masih taat pada lampu yang terpancang di sudut sana.
Beberapa motor melewati garis berhenti antara sabar dan tidak.
Di kejauhan beberapa orang mulai mendatangi mobil-mobil yang berbaris rapi dihadapan raja jalan,
menanti-nanti kapan diijinkan berjalan.
Diantara yang beberapa itu salah satunya memegang kemoceng.Lusuh.
Seorang ibu,yang entah sudah berapa lama menginjak tajamnya jakarta sendirian tanpa alas.
Menebas debu-debu jalanan yang memeluk kaca mobil dengan erat.
Dan pergi dengan sia-sia bersama lambaian tangan yang acuhkannya.
Sang Prajurit Debu belum menyerah.
Dihampirinya mobil demi mobil. Putih, hitam, biru, hijau, merah.
Peduli apa?
Semakin lusuh semakin sadis pedangnya mengeksekusi.
Dan kini jerihnya dihargai.
Oleh tangan yang terjulur keluar melalui jendela yang enggan dibuka.
Sekoin. Seribu rupiah.
Peduli apa?
Ia tetap meraihnya, mengucap terima kasih.
Berlalu dengan harapan lain. Berharap maju, berjalan ke belakang.
Pun disisi lain jalannya
Dua makhluk Tuhan, mencari hidupnya di jalan raya.
Yang bagi kita hanya penghantar, adalah singgah emas bagi mereka.
Dua makhluk Tuhan, yang kehilangan diri mereka.
Atau mereka malah menemukannya, dalam rupa lain.
Berjalan tegap,tetapi dibalut rok mini.
Berbadan bidang tetapi diselimuti baju dengan potongan menantang.
Berwajah tegas, tetapi dipenuhi rias.
Berjalan diatas sepatu dengan hak yang tidak kurang dari 5cm.
Bernyanyi,entah apa yang dinyanyikan.
Merayu, entah apa yang diinginkan.
Seperak,dua perak? Mungkin saja.
"Banci Jalanan",kata mereka yang melipat tangan di dalam kemewahan.
Peduli apa?
Semakin menantang, semakin cepat mereka mendapat koin-koin
atau sekedar lembaran lusuh. Yang kini didewakan.
Diabaikan, dicemooh, tidak dihargai.
Peduli apa?
Mereka tetap berjalan, tetap berharap, tetap setia dengan jalannya.
Dan kita yang menatapnya, peduli apa?
"Hidupmu bukan hidupku. Aku bukan kamu. Kita bukan mereka.
Lalu peduli apa? Hingga debu jalanan menjadi salju.
Kamu tetap kamu dan aku tetap aku."
Masih membatu dipikir kita.
Kita yang merasa memiliki segalanya.
Kita tetap menjadi kita yang tidak peduli apa kepada mereka.
Hingga kapankah?
Entah.
Kepada siapa entah kita peduli.
Kapankah kepada mereka kita kan peduli??
Aku mau tahu bentuk kepedulian apa yang mau kamu berikan untuk mereka? Bukan tantangan, bukan skeptis tapi aku sungguh ingin tahu.
BalasHapusinilah yg aku berikan. sebab aku adalah pengecut, pelukis jalanan.
Hapus