"Ci.... Jamu ga?"
Suara itu yang selalu kudengar setiap pukul sembilan di hari Minggu pagi. Ketika aku melongok ke pintu depan rumahku, Mbok Yu bertanya dengan lembut: "Jamu gak non?"
Dan aku keluar untuk membukakan pintu pagar bagi dia.
"Iya, mbok. Masuk dulu. Bentar yah." jawabku sambil mempersilakan dia duduk,di teras rumah yang tidak berkursi. Lekas aku pergi mengambil gelas, sementara mbok melepaskan gendongannya dan duduk beralaskan keramik.
Tidak ada yang tahu siapa nama aslinya. Sejak kecil aku sudah memanggilnya Mbok Ayu, pedagang jamu gendong keliling. Entah sejak umur berapa aku mulai mengenalnya. Meminum jamu yang diraciknya. Menikmati hasil alam yang diperindahnya. Tidak setiap minggu, memang.
Aku menyerahkan cangkirku, "Beras kencur ya, mbok." pesanku.
"Aduh, ga berasa yah. Dulu buyung upik sekarang beras kencur. Udah pada gede-gede semua yah." katanya setelah menatapku dan kakakku -yang baru keluar- bergantian.
Tangannya yang sudah keriput mengambil botol demi botol, meracik jamu yang kupesan.
"Pake asem?" tanyanya dengan lembut dan membuyarkan lamunanku. Aku hanya menganggukdan menatapnya. Dan terus menatapnya.
Ah, mengapa wajahnya tidak berubah? Tanya dalam benakku. Padahal aku sudah beranjak remaja, dan Mbok Yu? Wajahnya seperti tidak menua. Itukah berkat dari Tuhan? Karena ia mengolah ciptaan-Nya sesuai fungsinya.
Aku menerima cangkir yang diserahkannya, dan memberikan uang dua ribu rupiah yang kegenggam.
Iya, dua ribu rupiah. Sepengingatanku, dulu mama membayarnya seribu rupiah dua gelas. Lalu seribu rupiah satu gelas. Dan kala itu aku masih memesan buyung upik rasa melon.
Waktu berjalan cepat rupanya. Dan entah dari - hingga kapan Mbo Yu akan terus memikul jamu-jamu dalam keranjang rotannya.
Tubuhnya membungkuk semakin dalam. Tangannya berkeriput semakin jelas. Kain gendongannya memudar perlahan. Tetapi tubuh dalam balutan kain kebaya sederhana itu masih mampu memikul nafkahnya.
Aku masuk untuk meletakkan cangkirku dan beranjak keluar lagi untuk mengantarkan Mbok Yu.
Kutatap mbok yang sedang membereskan bakulnya dan perlahan-lahan berdiri, mengikat kain pikulannya dengan telaten. Seperti dengan mata terpejampun dia dapat membuat bakul besarnya memeluk punggungnya erat.
Dikenakan sendal jepit hijaunyayang dengan setia menemaninya mengarungi beribu langkah, menginjak jutaan kerikil jalanan.
"Permisi ya, non. Makasih." ujarnya tetap dengan lembut. Dengan nada khas orang Jogja, atau Solo?
Entahlah, Banyak yang belum aku ketahui darinya. yang kutau dia adalah pahlawan.
Bagi siapa? Entahlah, mungkin keluarganya. Mungkin juga diriku, bersama ratusan orang lain yang meneguk jamunya.
"Iya, mbok. Makasih." jawabku tanpa melepaskan senyuman. Dan mbok membalas tersenyum. Atau bukan membalas tersenyum, wajahnya memang selalu melukiskan senyuman. Keikhlasan dalam menjalankan cerita kehidupannya.
Aku belum berhenti menatapnya hingga tubuhnya menghilang di kelok gang itu. Dan terus bertanya dalam benak, dari dan sampai mana mbok akan mengayunkan langkahnya?
Sekarang masih pukul setengah sepuluh pagi. Dan aku bertanya lagi, dari dan hingga kapan Mbok Yu akan berteman dengan debu jalanan mencari yang disebut orang sebagai harta?
17 September 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar